Tuesday, October 13, 2009

Kisah Bersama Yahudi

Semalam ana(aku) didatangi seorang kawan. Membuka cerita yang jarang bagi seorang mahasiswa seperti ku. Kerana ak betah dengan umpatan. Kini datang cerita pedoman.
Yang membawanya bukan lain. Mereka yang selalu bersama mengayam. Mungkin kerana kali ini lain. Cerita Rab menjadi bualan.

Permulaan kisah membuahkan persoalan. Islam agama yang penuh nilai keharmonian.
Agama yang menuntut kasih saayang. Adakah benar kita harus membenci seorang hanya atas pada nama? Maka persoalan cuba dirungkai. Memang agama Islamku agama suci agama penuh rohani. TEtapi jangan berikan komplikasi dalam pemikiran dan pemahaman. Biar ana perjelaskan.

Yahudi. menyebut namanya sudah membibitkan benci. Dendam umat yang sangat mendalam pada mereka. Yahudi kaum yang x pernah ku jumpa di alam realiti tetapi namanya menari nari di cupingku saban hari. Maka bolehkah aku membenci dia hanya pada nama seorang Yahudi? Jawapannya ak masih kabur memandangkan ilmu yang ada hanya sejentik. Tapi aku cuba berusaha. Teringat kisah suatu ketika dahulu tika aana pernah menimba ilmu.

Yahudi ialah mereka yang lahir dari keturunan bani israil. Menganut agama samawi yakni agama suci dari Ilahi. Diturunkan Allah dengan kitab Talmud. tetapi sedih kerana mereka mmg kaum ingkar. Turunnya agama islam dan Alquran membimbing kita menceritakan pembohongan yahudi ini. Telah Allah janjikan bahawa tiada hidayah bagi kaum terlaknat ini.
Maka jelas Islam tidak boleh berbaik dengan Yahudi.

Berikut ialah artikel yg dipetik dari sebuah blog:

“Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

“Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)

“Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

“Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) datang, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.” (Sanhedrin 104a)

“Terhadap seorang non Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri non-Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)

“Tidak ada isteri bagi non-Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)

“Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non Yahudi.” (Zohar I, 168a)

“Jika dua orang Yahudi menipu orang non-Yahudi, mereka harus membahagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)

“Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang non-Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)

“Tanah orang non-Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.” (Babba Bathra 54b)

“Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

“Kepemilikan orang non-Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)

“Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang non-Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

“Orang Yahudi boleh mempraktikkan riba terhadap orang non-Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)

“Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

Tetapi adalah jelas bagi mereka yang telah menerima hidayah Allah untuk menerima Islam, mereka bukan lah dari kaum yahudi.

No comments: